Dampak media massa terhadap sistem Sosial dalam perspektif Komunikasi Sosial
Oleh : I Wayan Astraguna
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju di era globalisasi ini, media massa merupakan suatu kebutuhan hidup manusia yang sangat vital, karena berhubung manusia adalah makhluk social yang selalu berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainya dalam kehidupannya. Begitu kuat pengaruh media masa dalam kehidupan masyarakat secara tidak sadar menyebabkan terbentuknya masyarakat massa (Mass society). Hingga kini dengan perkemabangan tekhnologi komunkasi, semakin banyak orang menggantungkan hidup kepada media sehingga tekhnologi media sangat mempengaruhi audiens (Liliweri : 2011 : 874).
PENDAHULUAN
![]() |
| credit priceza.co.id |
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju di era globalisasi ini, media massa merupakan suatu kebutuhan hidup manusia yang sangat vital, karena berhubung manusia adalah makhluk social yang selalu berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainya dalam kehidupannya. Begitu kuat pengaruh media masa dalam kehidupan masyarakat secara tidak sadar menyebabkan terbentuknya masyarakat massa (Mass society). Hingga kini dengan perkemabangan tekhnologi komunkasi, semakin banyak orang menggantungkan hidup kepada media sehingga tekhnologi media sangat mempengaruhi audiens (Liliweri : 2011 : 874).
Media
massa sebagai institusi social merupakan seperangkat peran untuk
menyebarkluaskan informasi, dimana peran dibentuk secara konsisten oleh pola
atau tindakan prilaku yang telah diakui oleh masyarakat. Media massa memiliki
tujuan untuk menyebarluaskan informasi, mempengaruhi, menghibur, mendidik,
memimbing tindakan atau prilaku individu sebagai anggota kelompok atau
masyarakat atau membimbing cara-cara bagi setiap individu untuk memenuhi
kebutuhan mereka (Liliweri : 2011 : 877)
Berdasarkan
undang-undang no 40 tahun 1999 tentang pers menyatakn bahwa tujuan media massa
adalah untuk menginformasikan, mendidik, menghibur, pengawasan sosial (sosial
control) hingga pengawas prilaku public dan penguasa.
Dalam
kenyataan di saat perkembangan tekhnologi media yang semakin maju maka peranan
media massa semakin luas karena menampilkan banyak peran,. Peran media dapat
menyebarluaskan informasi, hiburan, dan pengaruh melalui isi informasi yang
disebarluaskan. Begitu sentralnya media massa dalam mempengaruhi kehidupan
social, maka secara tidak langsung media massa dapat merubah prilaku social.
Dalam
perkembangan dunia teknologi sekarang ini, peran media massa sebagai sentral
dalam berkomunikasi mengalami perubahan ke arah yang negatif, dan ini sangat
berbahaya, mengingat bahwa begitu kuatnya media massa dalam mempengaruhi
kehidupan social.
Berdasarkan
latar belakang di atas, penulis akan membahas tentang masalah-masalah social
dan medi massa.
Pengertian Media Masa
Media massa adalah istilah yang
digunakan untuk mempertegas kehadiran suatu kelas, seksi media, yang dirancang
sedemikian rupa agar dapat mencapai audiens yang sangat besar dan luas (yang
dimaksudkan besar dan luas adalah seluruh penduduk di suatu bangsa atau
Negara). Pengertian media masa ini semakin luas penggunaannya sehubungan dengan
lahirnya percetakan oleh Guttenberg di abad pertengahan dan disusun oleh penemu
radio yang melintasi lautan antlantik pada 1920 dan terakhir dengan
perkembangan jaringan radio, televisi, meluasnya sirkulasi surat kabar dan
majalah serta internet yang berhubungan dengan massa (Liliweri : 2011 : 874)
Media massa adalah “sarana penyampai
pesan yang berhubungan langsung dengan masyarakat luas misalnya radio, televisi, dan surat kabar. Media
adalah bentuk jamak dari medium yang berarti tengah atau
perantara. Massa berasal dari bahasa Inggris yaitu mass yang berarti
kelompok atau kumpulan. Dengan demikian, pengertian media massa
adalah perantara atau alat-alat yang digunakan oleh massa dalam
hubungannya satu sama lain (Soehadi, 1978:38). Yang termasuk media massa
terutama adalah surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film sebagai The
Big Five of Mass Media (Lima Besar Media Massa), juga internet (cybermedia,
media online). Adpun tujuan utama media massa adalah untuk menyampaikan
informasi, mendidik, memberikan hiburan serta control sosial terhadap
masyarakat secara meluas.
Media massa memiliki efek yang
sangat kuat dalam kehidupan sosial masyarakat, karena memiliki kekuatan yang
sangat besar dalam mempengaruhi prilaku sosial. Seperti teori peluru (Bullet Theory) yang diungkapkan oleh
Schramm menyatakan bahwa media massa memiliki kekuatan yang luar biasa, dia
dapat menyuntik pesan kepada massa. Pesan ini ibarat peluru tajam yang dapat
ditembak kea rah audiens yang telah ditargetkan sebelumnya. Berdasarkan prinsip
ini, maka para perancang pesan membuat pesan apa saja yang setiap saat dapat
ditembaka ke arah sasaran. Hingga sampai
sekrang, prinsip teori ini masih dugunakan oleh para perancang iklan waktu
membuat pesan iklan. Media tidak mau tahu akan audiensnya yang penting pesan
itu sampai, efektif atau tidaknya bukan menjadi sebuah permasalahan yang
penting. Asumsi dasarnya bahwa semua orang dalam audiens itu sama, mereka
membutuhkan informasi, tidak perduli informasi itu di butuhkan atau tidak oleh
audiens. Akibatnya theory ini tidak memperhatikan kemungkinan penlakan dari
individu, kelompok, atau kategori sosial tertentu.
Para akademisi dan praktisi
meramalkan bahwa media massa akan mengalami perubahan secara drastis baik
sifat, peran, mapunun jenisnya. Tertutama peran media masa, diwaktu yang akan
dating media massa lebih banyak mengambil peran sebagai institusi prodeuktif
daripada institusi edukasi. Hal ini disebabkan oleh perubahan sosial yang
begitu cepat dan tuntutan-tuntutan para pemilik modal kuat sehingga siapapun
yang telah memilih bekerja di media massa akan memiliki visi yang sama yaitu
“menyelamatkan diri” dengan menyelamatkan medianya dari kebangkrutan atau dari
larinya pemilik modal. Mengahadapi
persoalan ini maka secara substansial sebenarnya media massa sudah bermasalah,
dimana visi dan misi media massa secara substansial juga sudah berubah. Secara
teori media massa bertujuan untuk memberikan informasi, edukasi dan hiburan,
namun kenyataan sekarang, media massa tidak lagi bergerak berdasarkan tujuan
tersebut. Hingga akhirnya media massa pada saat ini distigmakan sebagai
institusi penghasut, pencetus kerusuhan, pencetus masalah sosial, dan
sebagainya (Burhan Bangin : 2006 : 331).
Masalah
Sosial akibat Media Massa
Karena banyak perubahan dalam dunia media massa, banyak
permaslahan sisoal yang timbul dalam masyarakat, hal ini di sebabkan karena
begitu kuatnya pengaruh media massa dalam kehidupan manusia, permasalahan
sosial yang ditimbulkan oleh efek media massa sekarang ini berakibat berubahnya
peilaku sosial dalam masyarakat.
Media massa saat ini miskin dari fungsi edukasi
nilai-nilai kemanusiaan, bahkan media massa justru lebih menjadi corong
provokasi nilai-nilai kehewanan seperti matrealisme, hedonism, seks,
konumersial, kekerasan, skularisme, mistisme, dan sebagainya. Kesemuanya itu
menurut banyak kalangan menilai sebagai sumber pemicu permasalahan sosial dalam
masyarakat saat ini (Burhan Bungin : 2006 : 332).
Berikut publikasi media massa yang dapat merubah
prilaku sosial masyarakat dan menimbulkan berbagai permasalahan sosial dalam
masyarakat.
A. Mistisme dan Tahayul
Akhir-akhir ini, tayangan mistik media massa khusunya
televisi yang merupakan media massa yang paling banyak digemari oleh semua
kalangan dan lapisan masyarakat. Pada awalnya tayangan mistis dan tahayul lebih
banyak di tayangkan di TV berupa pemberitaan, namun akhir-akhir ini tayangan
itu dikemas dengan tayangan-tayangan keagamaan terutama islam. Tayangan ini
menyedot perhatian masyarakat konsumen media massa Indonesia yang umumnya
berbasis tradisisonal lebih menyukai informasi tahayul dan mistisme sebagai
bagian dari pengetahuan mereka selama dia hidup. sehingga mistis dan tahayul
yang disajikan oleh media massa dipahami oleh masyarakat sebagai mistis dan
tahayul dalam konsep masyarakat yang sarat dengan suasana ngeri, horror,
mencekam, ketidak mampuan masyarakat menjawab konsep mistis dan tahayul dalam
hidupnya menyebabkan timbulnya rasa ingin tahu pada tentang hal ini begitu
besar sehingga tayangan media massa tentang mistis dan tahayul ini menjadi
popular dalam masyarakat karena hal iini merupakan petualangan batin masyarakat
karena rasa ingin tahu terhadap misteri mistik itu sendiri (Burhan Bungin :
2006 : 333).
Tayangan mistik merupakan sebuah konstruksi sosial
dari sutradara film mistik terhadap bentuk kengerian, terhadap objek cerita
yang penuh dengan upaya konstruksi. Konstruksi ini ada yang bersifat ilmiah dan
ada yang benar-benar rekayasa. Berbagai
macam tayangan mistik seperti mistik semi sains (film mistik yang berhubungan
dengan fiksi ilmiah), mistis Fiksi (Film hiburan yang tidak masuk akal), mistis
horror (film mistik yang lebih banyak mengekspolotasi dunia lain seperti jin,
tuyul, setan, kematian tidak wajar dll). Tujuan dari kesemua tayangan ini
adalah untuk menciptakan suasana yang mencekam bagi para pemirsa.
Penayangan film-film mistis sesungguhnya dapat merusak
pola pikir masyarakat, karena perkembangan teknoligi yang semakin canggih
segala hal dapat dilakukan untuk menciptakan berbagai macam rekayasa dalam dunia
mistis dan ditayangkan dalam media massa.
Setiap pemberitaan media memiliki efek bagi konsumen
media, salah satunya adalah efek keburukan bagi masyarakat. Begitu pula
tayangan mistik mempunyai efek buruk kepada penontonya karena berdampak pada
kerusakan kognitif masyarakat, terutama anak-anak, bahaya besar tayangan mistik
dan tahayul adalah pada kerusakan sikap dan prilaku. Burhan Bungin : 2006 :
337)
Jadi tidak ada alasan rasional yang menyatakan siaran
mistik maupun tahayul yang di tayangkan di media massa bermanfaat bagi
masyarakat.
B. Pelecehan Seksual dan Pornomedia
Berawal
Dari Wacana Seks
Masalah tubuh perempuan menjadi objek porno,
sebenarnya sudah lama menjadi plomik dihampir semua masyarakat karena adanya
dua kutup dalam menilai tubuh manusia (terutama perempuan) sebagai objek seks.
Dua ktutp tersbut adalah 1) kelompok yang memuja tubuh sebagai objeks seks
serta merupakan sumber kebahagian, kesenangan, kenikmatan, status sosial, dan
seni. 2) kelompok yang menuduh seks sebagai objek maupun subjek dari sumber
malapetaka bagi kaum perempuan itu sendiri (Burhan Bungin : 2006 : 338)
Bila dipandang dari sisi pada kehidupan masyarakat
kota, dijumpai beberapa wanita lebih senang dieksploitasi atau mengeksploitasi
dirinya sebagai objek porno. Wanita lebih senang menonjolkan bagian-bagian
tubuhnya untuk menarik lawan jenisnya. Bentuk seperti ini adalah sisi lain dari
objektivitas wanita dalam memperlakukan prilaku seksnya. (Burhan Bungin 2006 :
340).
Berhubungan dengan media massa, kita melihat banyak
acara-acara televisi, majalah, bahkan internet menempatkan wanita sebagai kaum
yang selalu hangat untuk di bahas apalagi yang berhubungan dengan seks dan
porno itu sendiri. Banyak tayangan media yang menayangkan prilaku seks seperti
acara tv mata lelaki, iklan-iklan alat kontrasepsi, maupun majalah-majalah
porno, film-film yang menyelipkan adegan porno dan lain sebagainya. Hal ini
sangat berbahaya dalam kehidupan sosial, karena secara tidak langsung
mempengaruhi prilaku sosial. Sehingga banyak kejadian-kejadian yang amoral
terjadi di masyarakat yang berhubungan dengan seksual.
Pergeseran
Konsep Pornografi
Pada awalnya manusia belum terbuka seperti sekarang
ini, begitu juga tekhnologi komunikiasi belum berkembang seperti sekarang ini,
semua bentuk pencabulan atau tindakan-tindakan yang jorok dengan menonjolkan
objeks seks disebut dengan kata porno. Ketika porno itu dapat di ukir dalam
kertas maupun kanvas dan terutama ketika penemuan mesin cetak pada abad ke 14
sehingga masyarakat telah dapat memproduksi hasil-hasil cetakan termasuk
gambar-gambar porno maka istilah pronografi menjadi sangat sering digunakan
untuk menandai gambar porno saat itu hingga sekarang (Burhan Bungin : 2006 :
340)
Dengan perkembangan pemikiran tentang pornogarfi,
istilah prono berkembang menjadi Pornografi (Berhubungan dengan gambar porno),
Pornoteks (berhubungan dengan cerita porno yang dituliskan dalam teks),
pornosuara (yang menyangkut tentang peragaan porno melalui suara), pornoaksi
(berhubungan dengan perlakuan porno), dan pornomedia (berhubungan dengan
aktivitas porno dalam media). Pornografi, pornoteks, pornoaksi, pornosuara
semuanya saling berhubungan dan menyatu dalam porno media. Semua aktivitas
porno yang ditayangkan oleh media tentunya dapat merusak moralitas. Ini juga
menjadi masalah sosial yang serius yang ditimbulkan oleh media massa.
Tanpa harus menuduh media massa melakukan keteledoran
pemberitaan, fakta fakta membuktikan pornomedia dalam berbagai bentuk pernah di
ekspos oleh media. Berdasarkan histrologi, Pornomedia merupakan kencendrungan
media massa dalam pemberitaannya : 1) ketika media telah kehilangan idialisme,
2) ketika media merasa tirasnya terancam menurun, 3) ketika media massa perlu
bersaing dengan sesama media, 4) ketika media baru memosisikan dirinya di
masyarakat, 5) ketika masyarakat masyarakat membutuhkan pemberitaan porno
media.
Pada kenyataannya institusi media massa adalah
komunitas sosisal yang kadang penuh dengan persaingan dan permusuhan.
Sebagaimana juga institusi sosial lainnya, media massa bukanlah unit-unit
sosial yang lepas dari nilai masyarakat secara
umum. Namun ketika mereka harus
memilih antara nilai dan persaingan, kadang media massa terlepas dari
control-kontrol moral.
Dalam pembicaraan pornomedia, perempuan menjadi subjek
sasaran pemberitaan. Alasan penempatan perempuan sebagai kekerasan media massa karena 1) media
sengaja menggunkan perempuan untuk keuntungan bisnis mereka, dengan demikian
penggunaan pornomedia dilakukan secara terencana untuk mengabaikan, menistakan,
dan mencampakan hakat manusia khsusnya perempuan, 2) tubuh perempuan umumnya
dijadikan sebagai sumber capital yang dapat mendatangkan uang dan perempuan
sendiri menjadi subjek yang disalahkan, 3) media massa telah mengabaikan
aspek-aspek moral dan perusakan terhadap nilai-nilai pendidikan dan agama serta
tidak bertanggung jawab terhadap efek negatif yang terjadi di masyarakat, 4)
media massa tidak memberikan pembelaan terhadap perempuan ketika disudutkan dan
dituduh sebagai subjek porno yang
dilakukan oleh media massa., dan 5) secara politik media massa menempatkan
perempuan sebagai bagian kekuasaan mereka secara umum (Burhan Bungin 2006 :
345)
C. Kekerasan Perempuan di
Media Massa
1. Citra Kekerasan
Perempuan
Dalam setip adegan yang dilakukan
oleh perempuan dalam media massa misalnya dalam sebuah adegan iklan di media
massa, perempuan menjadi pemeran hampir di semua adegan iklan mulai dari iklan
susu, sampo, alat dapur, dan masih banyak yang lainya, perempuan menjadi
sasaran utama oleh media massa untuk memerankan adegan periklanan. Namun dalam
kenyataann dalam media massa kita jugga melihat berbagai macam iklan yang
menempatkan perempuan sebagai objek. Misalnya dalam iklan yang yang berhubungan
dengan keperkasaan laki-laki,iklan irex, alat kontrasepsi dll menjadikan
perempuan sebagai judgment dari manfaat tersebut.
2. Kekuasaan Laki-Laki atas Perempuan : Ciptaan
Kapitalisme
secara global struktur muatan
pemberitaan media massa pada umumnya belum secara seimbang merespon kepentingan
perempuan. Pemberitaan media massa umumnya memberitakan ruang publik laki-laki.
Mulai dari persoalan Negara, politik, militer, olehraga, pemerintahan local,
sampai dengan wacana public laki-laki lainnya (Burhan Bungin : 2006 :357)
model pemberitaan media massa yang
didominasi public laki-laki menunjukan media massa merekronstuksi realitas
dalam kehidupan sosial dimana laki-laki lebih banyak mendominasi ruang
kehidupan sosial di masyarakat, terutama menyangkut ruang public. Media massa
setiap saat menurunkan berita yang secara tidak langsung memberi makna bahwa
public laki-laki adalah identik dengan kekuasaan laki-laki terhadap public
perempuan dan ruang public perempuan adalah konsumsi laki-laki atau dengan kata
lain public perempuan di media massa adalah bagian dari kerelaan kekuasaan
laki-laki.
Melihat berbagai
macam pengalaman di media massa tentang perempuan, maka sebenarnya pornomedia
baik dalam pemberitaan maupun dalam iklan dapat disimpulkan sebagai kekerasan
kekerasan perempuan terbesar di media massa. Karena melalui tayangan pornografi
media massa telah memotong-motong tubuh perempuan berdasarkan fungsi
seksualnya. Setiap potongan ada harga sendiri yang melalui harga kapitalisme
menikmati tubuh perempuan. Jadi kekerasan itu ada harganya dan fungsional media
massa dan kapitalis pemilik modal sebagai bagian dari model produksi kapitalis
(Burhan Bungin 2006 : 359)
D. Kekerasan Dan Sadisme
Media massa benar-benar ingin menunjukan kepada
masyarakat konsumennya bahwa ia adalah benar-benar reflikasi dari
masyarakatnya, karena itu media massa harus tampil dalam bentuk kekerasan dan
sadistis,, media massa harus punya wajah seram yang membuat masyarakan
konsumennya merinding dan mengelus dada. Padahal secara empiris replikasi media
massa akan terulang oleh konsumen medianya, yaitu masyarakat mereplikasikan
informasi media massa dalam proses kostruksi-konstruksi.
Kejahatan media massa terdiri dari berbagai macam
seperti :
-
Kekerasan terhadap diri
sendiri seperti bunuh diri, meracuni diri, menyakiti diri sendiri.
-
Kekerasan kepada orang
lain seperti menganiaya orang lain, membentak orang lain, sampai dengan
membunuh orang lain.
-
Kekerasan kolektif
seperti perkelahian masal, klompotan melakukan kejahatan, maupun sindikat
perampokan
-
Kekerasan yang lebih
besar seperti peperangan dan terorisme yang dampaknya member rasa ketakutan dan
kengerian yang luas biasa kepada pemirsanya.
Pembunuhan
Karakter (Caharacter Assassination)
Sering pula media massa melakukan pengadilan media
massa, yaiyu mengadili seseorang melalui pemberitaan media massa. Modus semacam
ini adalah media memberitakan seseorang telah melakukan kejahatan tanpa
melakukan konfirmasi dan bersifat tendetius untuk memojokan orang lain.
mengadili seseorang melalui media massa adalah bentuk kekerasan kepada orang
lain, karena yang berhak mengadili seseorang adalah pengadilan. Sasaran
mengadili seseorang adalah untuk membunuh karakter seseorang agar reputasi
orang tersebut menjadi rusak di depan public dan akibat lebih besar adalah
dipecat dari jabatan atau tugas dan pekerjaan.
Pembunuhan karakter macam ini adalah juga kejahatan
seseorang terhadap orang lain. karena tidak seseorangpun dapat mengahalangi
orang lain untuk mengkarya mengekspresikan diri dalam masyarakat. Permasalah
ini sangat luas karena membunuh karakter seseorang dalam media massa akan
berdampak pada keluarga orang tersebut (Burhan Bungin : 2006 : 361)
Tayangan
dan Pemberitaan yang Tidak Bermutu
Media massa selain jelas-jelas menyebarkan porno media
maupun sering melakukan pembunuhan karakter seseorang juga acap kali menayangkan
atau memberitakan informasi-informasi yang tidak bermutu, sampah, dan tak
bermanfaat bagi masyarakat (Burhan Bungin : 2006:362).
Tayangan-tayangan film dalam media massa sekarang ini
seperti sinetron GGS, Humor Jahiil, terlanjur cinta, Cinta fitri, dan lainnya.
Kesemuanya itu tidak ada yang mendidik, tidak member rasa hormat kepada orang
tua, serta penuh dengan konflik keluarga yang dilebih-lebihkan.
Seperti yang diketahui bahwa semua aktivitas manusia
di masyarakat harus bermanfaat bagi manusia pada umumnya, baik itu ilmu
pengetahuan, seni, kreativitas dan budaya, semuanya harus mendukung bagi
berkembangnya sifat-sifat budaya manusa yang bermoral dan beradab. Dengan
demikian berbagai kreativitas seni, budaya dan ilmu pengetahuan yang sengaja menjerumuskan
manusia kepada sifat-sifat kehewanan menjadi sesuatu yang buruk bagi
masyarakatnya. Demikian pula dengan media yang menayangkan tayangan yang
menimbulkan munculnya sifat-sifat kehewanan, maka pasti informasi dan
pemberitaan itu menjadi tidak bermutu untuk meningkatkan kualitas nnilai dan
budaya manusia pada masyarakatnya (Burhan Bungin :2006:362)
Penggunan
Telpon Genggam Yang Mencemaskan
HP adalah media komunikasi modern yang berkembang dan
bermanfaat bagi umat manusia. Namun akhir-akhir ini perkembangan HP menjadi
mencemaskan, dimulai dari produksi HP yang tidak terbatas dan penggunaan dalam
jangka waktu yang tidak begitu panjang di kawatirkan akan menjadi limbah dunia
dan mencemaskan dunia, dampak negative juga penggunaan HP dapat digunkan
sebagai ajang penipuan, perselingkuhan, kejahatan teroris, perampokan, dan
sebagainya. Dalam dunia pelacuran HP juga dijadikan sebagai sarana komunikasi
oleh para penjual jasa dan pengguna jasa dan ini sangat berbahaya bagi
kehidupan sosial.
Selain permasalahan tersebut di atas, telpon jga
digunakan untuk praktek pornosuara, asudah berkemabang di masyarakat saat ini,
banyak wanita yang menjual suaranya yang bernuansa seksual kepada para lelaki
melalui jaringan telpon.
Telpon jga menjadi alat utama untuk menipu masyarakat.
Para peipu telah membangun konsep jaringan telpon untuk menipu orang, bahkan
mereka sanggup mengkoneksikan jaringan telpon, internet, dan kode rahasia bank
untuk membobol bank. Model ini
memanfaatkan kelengahan pemilik ATM dan mengiring pemilik ATM untuk melakukan
transaksi di ATM (Burhan Bungin : 2006:366).
Berdasarkan berbagai macam permasalahan yang diuraikan
pada pembahasan di atas, dapat kita bayangkan bahwa dampak negatif penggunaan
media massa sesungguhnya sudah menimbulkan banyak permasalahan dalam kehidupan
seosial, baik masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan agama. Ini tentu
sangat mengkawatirkan di kehidupan yang semakin canggih dengan perkembangan
tekhnologi, manusia dituntut untuk meningkatkan sumber daya manusia agar apat
bersaing dalam dunia tekhnologi. Karena selain dampak positif yang dibanggakan,
dampak negatifnya juga merupakan suatu hal yang sangat penting untuk di
waspadai karena dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat serta pola piker
bahkan prilaku sosial dalam masyarakat.
Simpulan
Media massa sebagai institusi sosial merupakan
seperangkat peran untuk menyebarkluaskan informasi, dimana peran dibentuk
secara konsisten oleh pola atau tindakan prilaku yang telah diakui oleh
masyarakat. Perkembangan media massa yang semakin maju dalam dunia globalisasi
yang semakin canggiih menyebabkan timbulnya persaingan dalam perkembangan media
massa sehingga tindakan media massa keluar dari tujuan media massa itu sendiri.
Mengingat bahwa sebagian besar kehidupan masyarkat sekarang ini menggunakan media
massa dalam segala aktivitasnya, mengakibatkan begitu kuatnya media massa
mempengaruhi kehidupan manusia.
Dalam kenyataannya media massa yang merupakan sentral
focus perhatian masyarakat mengalami kemunduran dalam hal membangun prilaku
dalam kehidupan manusia, karena terdapat persaingan yang dilakukan oleh para
pemilik model yang menjalankan media massa sehingga media massa menjadi ajang
bisnis dan berkesan matrealistis. Dalam hal memenangkan dunia persaingan inilah
sehingga media massa tidak lagi memperhatikan tujuan media massa yang
sesungguhnya sehingga ini berdampak pada konsumen dari media massa itu sendiri
(masyarakat) dan bahkan efek media massa
menimbulkan masalah yang komplek dalam masyarakat seperti masalah ekonomi,
sosial, budaya, pendidikan, agama, politik dan lain sebagainy
DAFTAR PUSTAKA
Bungin,Burhan.2006.”Sosiologi Komunikasi Teori Paradigma dan
Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat”. Kencana Pranada Media Group
: Jakarta
Liliweri, Allo.2011.”Komunikasi Serba Ada Serba Makna”.Kencana
Pranada Media Group : Jakarta

Komentar
Posting Komentar