Dampak media massa terhadap sistem Sosial dalam perspektif Komunikasi Sosial

Oleh : I Wayan Astraguna
PENDAHULUAN
hp dan masyarakat
credit priceza.co.id

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju di era globalisasi ini, media massa merupakan suatu kebutuhan hidup manusia yang sangat vital, karena berhubung manusia adalah makhluk social yang selalu berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainya dalam kehidupannya. Begitu kuat pengaruh media masa dalam kehidupan masyarakat secara tidak sadar menyebabkan terbentuknya masyarakat massa (Mass society). Hingga kini dengan perkemabangan tekhnologi komunkasi, semakin banyak orang menggantungkan hidup kepada media sehingga tekhnologi media sangat mempengaruhi audiens (Liliweri : 2011 : 874).
Media massa sebagai institusi social merupakan seperangkat peran untuk menyebarkluaskan informasi, dimana peran dibentuk secara konsisten oleh pola atau tindakan prilaku yang telah diakui oleh masyarakat. Media massa memiliki tujuan untuk menyebarluaskan informasi, mempengaruhi, menghibur, mendidik, memimbing tindakan atau prilaku individu sebagai anggota kelompok atau masyarakat atau membimbing cara-cara bagi setiap individu untuk memenuhi kebutuhan mereka (Liliweri : 2011 : 877)
Berdasarkan undang-undang no 40 tahun 1999 tentang pers menyatakn bahwa tujuan media massa adalah untuk menginformasikan, mendidik, menghibur, pengawasan sosial (sosial control) hingga pengawas prilaku public dan penguasa.
Dalam kenyataan di saat perkembangan tekhnologi media yang semakin maju maka peranan media massa semakin luas karena menampilkan banyak peran,. Peran media dapat menyebarluaskan informasi, hiburan, dan pengaruh melalui isi informasi yang disebarluaskan. Begitu sentralnya media massa dalam mempengaruhi kehidupan social, maka secara tidak langsung media massa dapat merubah prilaku social.
Dalam perkembangan dunia teknologi sekarang ini, peran media massa sebagai sentral dalam berkomunikasi mengalami perubahan ke arah yang negatif, dan ini sangat berbahaya, mengingat bahwa begitu kuatnya media massa dalam mempengaruhi kehidupan social.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis akan membahas tentang masalah-masalah social dan medi massa.

Pengertian Media Masa
Media massa adalah istilah yang digunakan untuk mempertegas kehadiran suatu kelas, seksi media, yang dirancang sedemikian rupa agar dapat mencapai audiens yang sangat besar dan luas (yang dimaksudkan besar dan luas adalah seluruh penduduk di suatu bangsa atau Negara). Pengertian media masa ini semakin luas penggunaannya sehubungan dengan lahirnya percetakan oleh Guttenberg di abad pertengahan dan disusun oleh penemu radio yang melintasi lautan antlantik pada 1920 dan terakhir dengan perkembangan jaringan radio, televisi, meluasnya sirkulasi surat kabar dan majalah serta internet yang berhubungan dengan massa (Liliweri : 2011 : 874)
Media massa adalah “sarana penyampai pesan yang berhubungan langsung dengan masyarakat luas misalnya radio, televisi, dan surat kabar. Media adalah bentuk jamak dari medium yang berarti tengah atau perantara. Massa berasal dari bahasa Inggris yaitu mass yang berarti kelompok atau kumpulan. Dengan demikian, pengertian media massa adalah perantara atau alat-alat yang digunakan oleh massa dalam hubungannya  satu sama lain (Soehadi, 1978:38). Yang termasuk media massa terutama adalah surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film sebagai The Big Five of Mass Media (Lima Besar Media Massa), juga internet (cybermedia, media online). Adpun tujuan utama media massa adalah untuk menyampaikan informasi, mendidik, memberikan hiburan serta control sosial terhadap masyarakat secara meluas.
Media massa memiliki efek yang sangat kuat dalam kehidupan sosial masyarakat, karena memiliki kekuatan yang sangat besar dalam mempengaruhi prilaku sosial. Seperti teori peluru (Bullet Theory) yang diungkapkan oleh Schramm menyatakan bahwa media massa memiliki kekuatan yang luar biasa, dia dapat menyuntik pesan kepada massa. Pesan ini ibarat peluru tajam yang dapat ditembak kea rah audiens yang telah ditargetkan sebelumnya. Berdasarkan prinsip ini, maka para perancang pesan membuat pesan apa saja yang setiap saat dapat ditembaka ke arah sasaran.  Hingga sampai sekrang, prinsip teori ini masih dugunakan oleh para perancang iklan waktu membuat pesan iklan. Media tidak mau tahu akan audiensnya yang penting pesan itu sampai, efektif atau tidaknya bukan menjadi sebuah permasalahan yang penting. Asumsi dasarnya bahwa semua orang dalam audiens itu sama, mereka membutuhkan informasi, tidak perduli informasi itu di butuhkan atau tidak oleh audiens. Akibatnya theory ini tidak memperhatikan kemungkinan penlakan dari individu, kelompok, atau kategori sosial tertentu.
Para akademisi dan praktisi meramalkan bahwa media massa akan mengalami perubahan secara drastis baik sifat, peran, mapunun jenisnya. Tertutama peran media masa, diwaktu yang akan dating media massa lebih banyak mengambil peran sebagai institusi prodeuktif daripada institusi edukasi. Hal ini disebabkan oleh perubahan sosial yang begitu cepat dan tuntutan-tuntutan para pemilik modal kuat sehingga siapapun yang telah memilih bekerja di media massa akan memiliki visi yang sama yaitu “menyelamatkan diri” dengan menyelamatkan medianya dari kebangkrutan atau dari larinya pemilik modal.  Mengahadapi persoalan ini maka secara substansial sebenarnya media massa sudah bermasalah, dimana visi dan misi media massa secara substansial juga sudah berubah. Secara teori media massa bertujuan untuk memberikan informasi, edukasi dan hiburan, namun kenyataan sekarang, media massa tidak lagi bergerak berdasarkan tujuan tersebut. Hingga akhirnya media massa pada saat ini distigmakan sebagai institusi penghasut, pencetus kerusuhan, pencetus masalah sosial, dan sebagainya (Burhan Bangin : 2006 : 331).
Masalah Sosial akibat Media Massa
Karena banyak perubahan dalam dunia media massa, banyak permaslahan sisoal yang timbul dalam masyarakat, hal ini di sebabkan karena begitu kuatnya pengaruh media massa dalam kehidupan manusia, permasalahan sosial yang ditimbulkan oleh efek media massa sekarang ini berakibat berubahnya peilaku sosial dalam masyarakat.
Media massa saat ini miskin dari fungsi edukasi nilai-nilai kemanusiaan, bahkan media massa justru lebih menjadi corong provokasi nilai-nilai kehewanan seperti matrealisme, hedonism, seks, konumersial, kekerasan, skularisme, mistisme, dan sebagainya. Kesemuanya itu menurut banyak kalangan menilai sebagai sumber pemicu permasalahan sosial dalam masyarakat saat ini (Burhan Bungin : 2006 : 332).
Berikut publikasi media massa yang dapat merubah prilaku sosial masyarakat dan menimbulkan berbagai permasalahan sosial dalam masyarakat.
A. Mistisme dan Tahayul

Akhir-akhir ini, tayangan mistik media massa khusunya televisi yang merupakan media massa yang paling banyak digemari oleh semua kalangan dan lapisan masyarakat. Pada awalnya tayangan mistis dan tahayul lebih banyak di tayangkan di TV berupa pemberitaan, namun akhir-akhir ini tayangan itu dikemas dengan tayangan-tayangan keagamaan terutama islam. Tayangan ini menyedot perhatian masyarakat konsumen media massa Indonesia yang umumnya berbasis tradisisonal lebih menyukai informasi tahayul dan mistisme sebagai bagian dari pengetahuan mereka selama dia hidup. sehingga mistis dan tahayul yang disajikan oleh media massa dipahami oleh masyarakat sebagai mistis dan tahayul dalam konsep masyarakat yang sarat dengan suasana ngeri, horror, mencekam, ketidak mampuan masyarakat menjawab konsep mistis dan tahayul dalam hidupnya menyebabkan timbulnya rasa ingin tahu pada tentang hal ini begitu besar sehingga tayangan media massa tentang mistis dan tahayul ini menjadi popular dalam masyarakat karena hal iini merupakan petualangan batin masyarakat karena rasa ingin tahu terhadap misteri mistik itu sendiri (Burhan Bungin : 2006 : 333).
Tayangan mistik merupakan sebuah konstruksi sosial dari sutradara film mistik terhadap bentuk kengerian, terhadap objek cerita yang penuh dengan upaya konstruksi. Konstruksi ini ada yang bersifat ilmiah dan ada yang benar-benar rekayasa. Berbagai  macam tayangan mistik seperti mistik semi sains (film mistik yang berhubungan dengan fiksi ilmiah), mistis Fiksi (Film hiburan yang tidak masuk akal), mistis horror (film mistik yang lebih banyak mengekspolotasi dunia lain seperti jin, tuyul, setan, kematian tidak wajar dll). Tujuan dari kesemua tayangan ini adalah untuk menciptakan suasana yang mencekam bagi para pemirsa.
Penayangan film-film mistis sesungguhnya dapat merusak pola pikir masyarakat, karena perkembangan teknoligi yang semakin canggih segala hal dapat dilakukan untuk menciptakan berbagai macam rekayasa dalam dunia mistis dan ditayangkan dalam media massa.
Setiap pemberitaan media memiliki efek bagi konsumen media, salah satunya adalah efek keburukan bagi masyarakat. Begitu pula tayangan mistik mempunyai efek buruk kepada penontonya karena berdampak pada kerusakan kognitif masyarakat, terutama anak-anak, bahaya besar tayangan mistik dan tahayul adalah pada kerusakan sikap dan prilaku. Burhan Bungin : 2006 : 337)
Jadi tidak ada alasan rasional yang menyatakan siaran mistik maupun tahayul yang di tayangkan di media massa bermanfaat bagi masyarakat.
B.  Pelecehan Seksual dan Pornomedia
Berawal Dari Wacana Seks
Masalah tubuh perempuan menjadi objek porno, sebenarnya sudah lama menjadi plomik dihampir semua masyarakat karena adanya dua kutup dalam menilai tubuh manusia (terutama perempuan) sebagai objek seks. Dua ktutp tersbut adalah 1) kelompok yang memuja tubuh sebagai objeks seks serta merupakan sumber kebahagian, kesenangan, kenikmatan, status sosial, dan seni. 2) kelompok yang menuduh seks sebagai objek maupun subjek dari sumber malapetaka bagi kaum perempuan itu sendiri (Burhan Bungin : 2006 : 338)
Bila dipandang dari sisi pada kehidupan masyarakat kota, dijumpai beberapa wanita lebih senang dieksploitasi atau mengeksploitasi dirinya sebagai objek porno. Wanita lebih senang menonjolkan bagian-bagian tubuhnya untuk menarik lawan jenisnya. Bentuk seperti ini adalah sisi lain dari objektivitas wanita dalam memperlakukan prilaku seksnya. (Burhan Bungin 2006 : 340).
Berhubungan dengan media massa, kita melihat banyak acara-acara televisi, majalah, bahkan internet menempatkan wanita sebagai kaum yang selalu hangat untuk di bahas apalagi yang berhubungan dengan seks dan porno itu sendiri. Banyak tayangan media yang menayangkan prilaku seks seperti acara tv mata lelaki, iklan-iklan alat kontrasepsi, maupun majalah-majalah porno, film-film yang menyelipkan adegan porno dan lain sebagainya. Hal ini sangat berbahaya dalam kehidupan sosial, karena secara tidak langsung mempengaruhi prilaku sosial. Sehingga banyak kejadian-kejadian yang amoral terjadi di masyarakat yang berhubungan dengan seksual.
Pergeseran Konsep Pornografi
Pada awalnya manusia belum terbuka seperti sekarang ini, begitu juga tekhnologi komunikiasi belum berkembang seperti sekarang ini, semua bentuk pencabulan atau tindakan-tindakan yang jorok dengan menonjolkan objeks seks disebut dengan kata porno. Ketika porno itu dapat di ukir dalam kertas maupun kanvas dan terutama ketika penemuan mesin cetak pada abad ke 14 sehingga masyarakat telah dapat memproduksi hasil-hasil cetakan termasuk gambar-gambar porno maka istilah pronografi menjadi sangat sering digunakan untuk menandai gambar porno saat itu hingga sekarang (Burhan Bungin : 2006 : 340)
Dengan perkembangan pemikiran tentang pornogarfi, istilah prono berkembang menjadi Pornografi (Berhubungan dengan gambar porno), Pornoteks (berhubungan dengan cerita porno yang dituliskan dalam teks), pornosuara (yang menyangkut tentang peragaan porno melalui suara), pornoaksi (berhubungan dengan perlakuan porno), dan pornomedia (berhubungan dengan aktivitas porno dalam media). Pornografi, pornoteks, pornoaksi, pornosuara semuanya saling berhubungan dan menyatu dalam porno media. Semua aktivitas porno yang ditayangkan oleh media tentunya dapat merusak moralitas. Ini juga menjadi masalah sosial yang serius yang ditimbulkan oleh media massa.
Tanpa harus menuduh media massa melakukan keteledoran pemberitaan, fakta fakta membuktikan pornomedia dalam berbagai bentuk pernah di ekspos oleh media. Berdasarkan histrologi, Pornomedia merupakan kencendrungan media massa dalam pemberitaannya : 1) ketika media telah kehilangan idialisme, 2) ketika media merasa tirasnya terancam menurun, 3) ketika media massa perlu bersaing dengan sesama media, 4) ketika media baru memosisikan dirinya di masyarakat, 5) ketika masyarakat masyarakat membutuhkan pemberitaan porno media.
Pada kenyataannya institusi media massa adalah komunitas sosisal yang kadang penuh dengan persaingan dan permusuhan. Sebagaimana juga institusi sosial lainnya, media massa bukanlah unit-unit sosial yang lepas dari nilai masyarakat secara  umum.  Namun ketika mereka harus memilih antara nilai dan persaingan, kadang media massa terlepas dari control-kontrol moral.
Dalam pembicaraan pornomedia, perempuan menjadi subjek sasaran pemberitaan. Alasan penempatan perempuan  sebagai kekerasan media massa karena 1) media sengaja menggunkan perempuan untuk keuntungan bisnis mereka, dengan demikian penggunaan pornomedia dilakukan secara terencana untuk mengabaikan, menistakan, dan mencampakan hakat manusia khsusnya perempuan, 2) tubuh perempuan umumnya dijadikan sebagai sumber capital yang dapat mendatangkan uang dan perempuan sendiri menjadi subjek yang disalahkan, 3) media massa telah mengabaikan aspek-aspek moral dan perusakan terhadap nilai-nilai pendidikan dan agama serta tidak bertanggung jawab terhadap efek negatif yang terjadi di masyarakat, 4) media massa tidak memberikan pembelaan terhadap perempuan ketika disudutkan dan dituduh sebagai  subjek porno yang dilakukan oleh media massa., dan 5) secara politik media massa menempatkan perempuan sebagai bagian kekuasaan mereka secara umum (Burhan Bungin 2006 : 345)
C. Kekerasan Perempuan di Media Massa
1. Citra Kekerasan Perempuan
Dalam setip adegan yang dilakukan oleh perempuan dalam media massa misalnya dalam sebuah adegan iklan di media massa, perempuan menjadi pemeran hampir di semua adegan iklan mulai dari iklan susu, sampo, alat dapur, dan masih banyak yang lainya, perempuan menjadi sasaran utama oleh media massa untuk memerankan adegan periklanan. Namun dalam kenyataann dalam media massa kita jugga melihat berbagai macam iklan yang menempatkan perempuan sebagai objek. Misalnya dalam iklan yang yang berhubungan dengan keperkasaan laki-laki,iklan irex, alat kontrasepsi dll menjadikan perempuan sebagai judgment dari manfaat tersebut.
2.  Kekuasaan Laki-Laki atas Perempuan : Ciptaan Kapitalisme
secara global struktur muatan pemberitaan media massa pada umumnya belum secara seimbang merespon kepentingan perempuan. Pemberitaan media massa umumnya memberitakan ruang publik laki-laki. Mulai dari persoalan Negara, politik, militer, olehraga, pemerintahan local, sampai dengan wacana public laki-laki lainnya (Burhan Bungin : 2006 :357)
model pemberitaan media massa yang didominasi public laki-laki menunjukan media massa merekronstuksi realitas dalam kehidupan sosial dimana laki-laki lebih banyak mendominasi ruang kehidupan sosial di masyarakat, terutama menyangkut ruang public. Media massa setiap saat menurunkan berita yang secara tidak langsung memberi makna bahwa public laki-laki adalah identik dengan kekuasaan laki-laki terhadap public perempuan dan ruang public perempuan adalah konsumsi laki-laki atau dengan kata lain public perempuan di media massa adalah bagian dari kerelaan kekuasaan laki-laki.
Melihat berbagai macam pengalaman di media massa tentang perempuan, maka sebenarnya pornomedia baik dalam pemberitaan maupun dalam iklan dapat disimpulkan sebagai kekerasan kekerasan perempuan terbesar di media massa. Karena melalui tayangan pornografi media massa telah memotong-motong tubuh perempuan berdasarkan fungsi seksualnya. Setiap potongan ada harga sendiri yang melalui harga kapitalisme menikmati tubuh perempuan. Jadi kekerasan itu ada harganya dan fungsional media massa dan kapitalis pemilik modal sebagai bagian dari model produksi kapitalis (Burhan Bungin 2006 : 359)
D. Kekerasan Dan Sadisme
Media massa benar-benar ingin menunjukan kepada masyarakat konsumennya bahwa ia adalah benar-benar reflikasi dari masyarakatnya, karena itu media massa harus tampil dalam bentuk kekerasan dan sadistis,, media massa harus punya wajah seram yang membuat masyarakan konsumennya merinding dan mengelus dada. Padahal secara empiris replikasi media massa akan terulang oleh konsumen medianya, yaitu masyarakat mereplikasikan informasi media massa dalam proses kostruksi-konstruksi.
Kejahatan media massa terdiri dari berbagai macam seperti :
-          Kekerasan terhadap diri sendiri seperti bunuh diri, meracuni diri, menyakiti diri sendiri.
-          Kekerasan kepada orang lain seperti menganiaya orang lain, membentak orang lain, sampai dengan membunuh orang lain.
-          Kekerasan kolektif seperti perkelahian masal, klompotan melakukan kejahatan, maupun sindikat perampokan
-          Kekerasan yang lebih besar seperti peperangan dan terorisme yang dampaknya member rasa ketakutan dan kengerian yang luas biasa kepada pemirsanya.

Pembunuhan Karakter (Caharacter Assassination)
Sering pula media massa melakukan pengadilan media massa, yaiyu mengadili seseorang melalui pemberitaan media massa. Modus semacam ini adalah media memberitakan seseorang telah melakukan kejahatan tanpa melakukan konfirmasi dan bersifat tendetius untuk memojokan orang lain. mengadili seseorang melalui media massa adalah bentuk kekerasan kepada orang lain, karena yang berhak mengadili seseorang adalah pengadilan. Sasaran mengadili seseorang adalah untuk membunuh karakter seseorang agar reputasi orang tersebut menjadi rusak di depan public dan akibat lebih besar adalah dipecat dari jabatan atau tugas dan pekerjaan.
Pembunuhan karakter macam ini adalah juga kejahatan seseorang terhadap orang lain. karena tidak seseorangpun dapat mengahalangi orang lain untuk mengkarya mengekspresikan diri dalam masyarakat. Permasalah ini sangat luas karena membunuh karakter seseorang dalam media massa akan berdampak pada keluarga orang tersebut (Burhan Bungin : 2006 : 361)
Tayangan dan Pemberitaan yang Tidak Bermutu
Media massa selain jelas-jelas menyebarkan porno media maupun sering melakukan pembunuhan karakter seseorang juga acap kali menayangkan atau memberitakan informasi-informasi yang tidak bermutu, sampah, dan tak bermanfaat bagi masyarakat (Burhan Bungin : 2006:362).
Tayangan-tayangan film dalam media massa sekarang ini seperti sinetron GGS, Humor Jahiil, terlanjur cinta, Cinta fitri, dan lainnya. Kesemuanya itu tidak ada yang mendidik, tidak member rasa hormat kepada orang tua, serta penuh dengan konflik keluarga yang dilebih-lebihkan.
Seperti yang diketahui bahwa semua aktivitas manusia di masyarakat harus bermanfaat bagi manusia pada umumnya, baik itu ilmu pengetahuan, seni, kreativitas dan budaya, semuanya harus mendukung bagi berkembangnya sifat-sifat budaya manusa yang bermoral dan beradab. Dengan demikian berbagai kreativitas seni, budaya dan ilmu pengetahuan yang sengaja menjerumuskan manusia kepada sifat-sifat kehewanan menjadi sesuatu yang buruk bagi masyarakatnya. Demikian pula dengan media yang menayangkan tayangan yang menimbulkan munculnya sifat-sifat kehewanan, maka pasti informasi dan pemberitaan itu menjadi tidak bermutu untuk meningkatkan kualitas nnilai dan budaya manusia pada masyarakatnya (Burhan Bungin :2006:362)
Penggunan Telpon Genggam Yang Mencemaskan
HP adalah media komunikasi modern yang berkembang dan bermanfaat bagi umat manusia. Namun akhir-akhir ini perkembangan HP menjadi mencemaskan, dimulai dari produksi HP yang tidak terbatas dan penggunaan dalam jangka waktu yang tidak begitu panjang di kawatirkan akan menjadi limbah dunia dan mencemaskan dunia, dampak negative juga penggunaan HP dapat digunkan sebagai ajang penipuan, perselingkuhan, kejahatan teroris, perampokan, dan sebagainya. Dalam dunia pelacuran HP juga dijadikan sebagai sarana komunikasi oleh para penjual jasa dan pengguna jasa dan ini sangat berbahaya bagi kehidupan sosial.
Selain permasalahan tersebut di atas, telpon jga digunakan untuk praktek pornosuara, asudah berkemabang di masyarakat saat ini, banyak wanita yang menjual suaranya yang bernuansa seksual kepada para lelaki melalui jaringan telpon.
Telpon jga menjadi alat utama untuk menipu masyarakat. Para peipu telah membangun konsep jaringan telpon untuk menipu orang, bahkan mereka sanggup mengkoneksikan jaringan telpon, internet, dan kode rahasia bank untuk membobol bank.  Model ini memanfaatkan kelengahan pemilik ATM dan mengiring pemilik ATM untuk melakukan transaksi di ATM (Burhan Bungin : 2006:366).
Berdasarkan berbagai macam permasalahan yang diuraikan pada pembahasan di atas, dapat kita bayangkan bahwa dampak negatif penggunaan media massa sesungguhnya sudah menimbulkan banyak permasalahan dalam kehidupan seosial, baik masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan agama. Ini tentu sangat mengkawatirkan di kehidupan yang semakin canggih dengan perkembangan tekhnologi, manusia dituntut untuk meningkatkan sumber daya manusia agar apat bersaing dalam dunia tekhnologi. Karena selain dampak positif yang dibanggakan, dampak negatifnya juga merupakan suatu hal yang sangat penting untuk di waspadai karena dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat serta pola piker bahkan prilaku sosial dalam masyarakat.
 Simpulan
Media massa sebagai institusi sosial merupakan seperangkat peran untuk menyebarkluaskan informasi, dimana peran dibentuk secara konsisten oleh pola atau tindakan prilaku yang telah diakui oleh masyarakat. Perkembangan media massa yang semakin maju dalam dunia globalisasi yang semakin canggiih menyebabkan timbulnya persaingan dalam perkembangan media massa sehingga tindakan media massa keluar dari tujuan media massa itu sendiri. Mengingat bahwa sebagian besar kehidupan masyarkat sekarang ini menggunakan media massa dalam segala aktivitasnya, mengakibatkan begitu kuatnya media massa mempengaruhi kehidupan manusia.
Dalam kenyataannya media massa yang merupakan sentral focus perhatian masyarakat mengalami kemunduran dalam hal membangun prilaku dalam kehidupan manusia, karena terdapat persaingan yang dilakukan oleh para pemilik model yang menjalankan media massa sehingga media massa menjadi ajang bisnis dan berkesan matrealistis. Dalam hal memenangkan dunia persaingan inilah sehingga media massa tidak lagi memperhatikan tujuan media massa yang sesungguhnya sehingga ini berdampak pada konsumen dari media massa itu sendiri (masyarakat)  dan bahkan efek media massa menimbulkan masalah yang komplek dalam masyarakat seperti masalah ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, agama, politik dan lain sebagainy

DAFTAR PUSTAKA
Bungin,Burhan.2006.”Sosiologi Komunikasi Teori Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat”. Kencana Pranada Media Group : Jakarta
Liliweri, Allo.2011.”Komunikasi Serba Ada Serba Makna”.Kencana Pranada Media Group : Jakarta


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"PROSES KEMATIAN MANUSIA PADA CERITA SWARGAROHANA PARWA"

TUTUR KUMARA TATTWA

"MENJADI PEMIMPIN YANG IDEAL DENGAN KONSEP ASTA BRATHA"