Perayaan Hari Raya Nyepi sebagai upaya untuk menyegarkan Bhuana Agung dan Bhuana Alit
![]() |
| melasti credit businesstimes.com |
oleh : I Wayan Astraguna
Bagaimana memaknai hari raya nyepi ini?
Umat hindu sadar betul akan tri kerangka dasar umat hindu yang dikenal dengan Tattwa, Susila dan Upakara. Hal ini menjadi pijakan seluruh umat hindu dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan beragama. Dalam prilaku kesehariannya, umat hindu tidak terlepas dari Upacara, upakara merupakan perwujudan bhakti seluruh umat hindu terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala bentuk Manifestasinya. Hampir seluruh prilaku beragama hindu dihiasi dengan upacara. Tentu pelaksanaan upacara itu tidak terlepas dari Tattwa sebagai landasan pelaksanaannya dan juga Susila sebagai etika dalam pelaksanaan upacara yadnya.
Tidak juga dalam pelaksanaan hari raya keagamaan, umat hindu tidak terlepas dari upakara dan perayaan hari suci keagamaannya. Salah satu contoh misalnya pelaksanaan hari raya nyepi. Dari pandangan Tattwa dan filsafat, pelaksanaan hari raya nyepi bukan hanya semata pelaksanaan hari raya tahun baru Hindu yang dihitung berdasarkan kalender Caka semata, namun lebih dari itu, ada makna penting yang tersirat dalam pelaksanaan hari raya nyepi itu sendiri. Catur brata penyepian sesungguhnya mengandung makna yang sangat mendalam. Amati Gni bukan hanya dimaknai sebagai usaha untuk tidak menyalahkan api dan tidak melakukan aktifitas memasak, amati gni yang terpenting adalah bagaimana dalam pelaksanaan catur brata penyepian ini, kita sebagai manusia diingatkan untuk sejenak saja merenungkan akan prilaku kita sebagai manusia dan juga membunuh sifat panas dalam diri kita, baik yang berhubungan dengan hawa nafsu, permusuhan, kebencian, dan segala bentuk pengaruh sad ripu dan sapta timira yang ada dalam diri kita. Dengan membunuh segala bentuk sifat panas yang negatif dalam diri kita, diharapkan kita semua akan menemukan keseimbangan dalam hidup kita sebagai manusia. Demikian juga Amati karya, amati lelungan, dan bahkan amati lelanguan adalah merupakan sebuah sikap pengendalian diri kita agar tidak serta merta hidup diperbudak oleh hawa nafsu, dan selalu terpengaruh oleh sifat keduniawian. Selain itu juga, kita tidak harus melakukan aktifitas untuk memenuhi duniawi semata, namun diharapkan untuk berisirahat sejenak dari segala aktivitas fisik dan memulai aktivitas rohani dengan melakukan Mulatsarira atas segala kesalahan dan perbuatan dosa yang kita lakukan selama hidup sebagai makhluk ciptaan tuhan. Beginilah hendakanya kita memaknai perayaan hari raya Nyepi.
Bagiaman bisa dikatakan melaksanakan hari raya nyepi umat hindu berupaya untuk mnyegarkan Bhuana Agung (Alam Semesta) ?
Bisakah kita bayangkan, berapa usia alam semesta ini, tentu tidak ada ilmu pengetahuan yang dapat memberikan gambaran pasti berapa usia alam semesta ini, kendatipun banyak ilmuan yang memperkirakan bahwa alam semesta ini berusia 10-15 milyar tahun, hal ini belum seutuhnya benar. Kita boleh menganggap bahwa alam semesta berusa sekitar 10-15 Milyar tahun dan bumi kita sendiri dari beberapa ilmuan mengatakan bahwa bumi sudah berumur 4.543 Milyar Tahun. Okelah, kita tidak berbicara pada manusia jaman sejarah dan prasejarah, mungkin di jaman itu belum begitu banyak dampak negatif dari segala bentuk aktivitas manusia yang dilakukan di bumi ini dan tentu alam semesta tidak begitu mendapatkan dampak buruk dari prilaku manusia di jaman sebelum menjadi manusia modern. Pada jaman peradaban hindu di dunia, dengan mempercayai bahwa Weda adalah kitab suci agama Hindu yang bersumber dari wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dijaman munculnya berbagai macam keyakinan di dunia ini, agama hindu dengan berbagai naskah sucinya sudah menguraikan bagaimana menjaga alam Semsta dan juga bagaimana hendaknya manusia berprilaku di alam semesta ini. tidak bisa kita mengelak sebagai mansuia bahwa segala bentuk bencana alam yang terjadi di alam semesta ini tidak terlepas dari prilaku buruk manusia, sehingga alam semesta tentu meanggung beban dari segala prilaku buruk kita sebagai manusia. Kita ilustrasikan saja, dijaman yang semakin modern ini, segala bentuk kebutuhan kita dipermudah, namun konsekuensinya adalah dengan mengorbankan berbagai unsur alam semesta. Contohnya tenaga listrik yang kita nikmati sekarang disetiap pernjuru dunia ini dihasilkan dari alam semesta, tentu memperolehnya adalah dengan merusak alam semesta, demikian juga kendaraan yang kita kendarai dan menggunakan bensin sebagai bahan bakarnya, tentu menggunakan unsur-unsur yang diperoleh dari bumi dengan merusak alam bumi, demikian juga hal lain seperti, radiasi, nuklir dan sebagainya yang diciptakan oleh manusia adalah untuk memenuhi semua hawa nafsu manusia. Demikianlah bumi sejak berabad-abad disakiti dan dimanfaatkan oleh manusia untuk mengisi hawa nafsunya, dan tentu ini akan terjadi sampai benar-benar alam semesta ini kembali ke titik 0 (Pralina). Dengan prilaku itu, apakah bisa kita membayangkan, bagaimana alam semesta bekerja dan selalu menyediakan apa yang manusia iniginkan. Dengan demikian dapatkah kita bayangkan bagaimana alam semesta ini bekerja keras akibat ulah kita sebagai manusia?
Mungkin dapat dikatakan bahwa ajaran hindu sudah memprediksi hal ini, maka berbagai ajaran hindu dan segala bentuk upacara hindu selalu berhubungan alam semesta dan selalu berusaha menjaga keharmonisan alam semesta seperti yang tertuang dalam ajaran Tri Hita Karana, yang mengajarkan manusia untuk menjalin bubungan yang harmonis antara manusa dengan sesama manusia, manusia dengan alam semesta dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran ini sesungguhnya sudah emmberikan gambaran bahwa menjaga alam semesta adalah sebuah yadnya agung yang harus dilakukan oleh seluruh umat manusia.
Lalu apa dampak langsung perayaan hari raya nyepi dalam menjaga Bhuana Agung ?
Kita bisa melihat dimana ada perayaan hari raya yang mencerminkan cara untuk menjaga alam semesta? Tentu sebagai umat Hindu, kita bangga akan perayaan hari raya kita yaitu perayaan nyepi. Esensi yang tertanam dalam perayaan hari raya nyepi ini adalah sesungguhnya untuk menjaga alam semesta. Coba kita bayangkan, bagaimana jika seluruh manusia di bumi ini melaksanakan ketentuan nyepi ? dengan menghentikan aktivitas kita sebagai manusia selama 24 jam, bayangkan bagaimana dampaknya postif yang dialami alam semesta. Coba kita berfikir seandainya diseluruh dunia dalam 1 x 24 jam orang tidak menggunakan kendaraan,? Tidakah lapisan ozon dan udara ini akan menjadi bersih ? demikian juga 1x24 jam kita tidak menggunakan listrik, bayangkan berapa energi listrik yang dapat kita hemat ? dalam 1x24 jam kita tidak melakukan aktivitas dan menenangkan diri dalam kesunyian. Bayangkan betapa damainya dunia ini, kita bisa mendengar suara alam semesta yang sesungguhnya. Tentu banyak hal baik yang kita dapat peroleh dengan melaksanakan hari raya nyepi ini dengan sungguh-sungguh.

Komentar
Posting Komentar